Rabu, 19 Agustus 2015

Apalah "AKU"

Aku..
Aku adalah wanita yang kamu pilih kala itu, aku adalah wanita yang jauh dari kata sempurna, jauh dari kata menyenangkan, jauh dari kata wanita yang suci.
Aku yang dulu dijadikanmu sebagai wanita pelarianmu yang ternyata kala itu aku adalah wanita simpananmu, hingga aku menjadi wanita yang tidak di sukai di keluargamu.
Aku yang kala itu hanya mengetahui kamu seorang laki-laki yang free dan tak mempunyai calon istri, hanya bisa bersabar dan mencoba menerima kenyataan bahwa ternyata "Aku" adalah wanita yang di tuntut harus memperebutkan hatimu saat itu. Jika saja aku tahu bahwa kamu sedang di posisi sulit, tak seharusnya aku datang dan coba mempersulitmu lagi. Dengan sifat laki-laki pada umumnya kamu yang selalu meyakinkan aku seolah hanya "Aku" satu-satunya wanita yang paling berarti dalam hidupmu kala itu, dengan kenyataan itu membuatku hidup dengan kepura-puraan yang ikhlas akan semua yang telah terjadi.

Aku yang begitu muda, dibanding mantan kekasihmu dulu yang jauh lebih dewasa, apalah aku yang hanya bisa membuatmu kesal dengan semua tingkah kekanak-kanakanku.

Dia yang bisa merawatmu lebih dariku, dia yang bisa memasak masakan kesukaanmu, dia yang bisa menyenangkan hatimu, dia yang bisa menangkan hati Ibumu, apalah aku yang hanya bisa membuatmu sengsara hingga kau menjadi anak durhaka. Di malam setiap kali kita berpisah, maafkan aku yang kadang suka membayangkan dirimu yang sedang duduk terdiam di depan gadgetmu sambil memerhatikan foto mantan kekasihmu dari jauh, apalah aku yang hanya bisa berdoa agar kamu hadir di mimpi indahku :')

Dikala kamu sakit, dari pagi hingga malam tiba dia lah yang selalu ada di sampingmu setiap hari, membawakanmu obat, membuatkanmu soup, membuatkanmu segelas teh hangat, memijat kakimu, memakaikanmu selimut, dan pergi setelah kamu terlelap. Apalah aku yang hanya bisa menangis sedih, mendengar suara serta keluh kesahmu di telepon, aku berusaha untuk ada di sampingmu, membawakanmu makanan, membawakanmu obat, tak peduli seberapa jauh perjalananku, tak peduli rintangan apa yang akan aku hadapi, tak peduli berapa banyak orang yang tak mengharapkan kehadiranku dirumah mu, tak peduli dengan resiko disaat aku harus pulang-pergi dari rumahmu sendirian, tak peduli kemurkaan Papa ku saat aku keseringan keluar rumah, tak peduli akan kesibukanku sendiri, hingga tak peduli dengan kesehatanku sendiri :)
Maafkan aku..

Di saat kamu sedang dalam masalah, dia yang selalu datang menghiburmu, apalah aku yang hanya bisa ngomel-ngomel karena ke tidak hati-hatianmu dalam melakukan sesuatu.
Maafkan aku..

Di kala kamu sedang bersama teman-temanmu menghabiskan malam dengan beberapa botol minuman kesukaanmu, ada dia yang selalu menanyakan kabarmu dan selalu memperhatikanmu, apalah aku yang hanya bisa marah-marah dan saat hatiku lelah memarahimu aku membiarkanmu bersama teman-temanmu hingga aku tidur bersama penyesalan dan kekesalan juga kesedihanku.
Maafkan aku..

Dan di saat kita sedang berantem hebat dan kamu yang suka bersikap tidak adil (dengan mengeluarkan suara lantang) padaku, ingin rasanya aku mati dan berharap kamu tak akan menyesalinya. Beberapa kali aku yang suka memaksakan kehendak, semata-mata karena aku butuh hiburan dan tau mana batasan-batasan yang boleh dan tidak aku lakukan. Dengan semua hak bertemanku serta fasilitas sosial media yang di sita olehmu, selalu saja membuatku menyesal telah dipertemukan denganmu. Dan rasanya aku ingin memberikanmu kembali kepada mantan kekasihmu dulu, membayangkan sebuah rumah sakit yang bisa mencuci otak ku (tanpa memikirkan berapa besar biaya dan entah ada atau tidaknya alat atau program yang bisa mencuci otak manusia) agar aku terlepas dari semua pikiran tentangmu. Apalah aku yang ternyata hanya manusia biasa.
Maafkan aku..

Dan Aku?
Aku tak tahu apa aku harus bangga akan diriku yang telah memenangkan mu.
Aku tak tahu apa benar aku telah menangkan hatimu, karena aku percaya akan kalimat yang mengatakan "Walau ragamu bersamaku, belum tentu hatimu milikku".
Maafkan aku..

Aku yang membuatmu menjadi anak durhaka kepada Ibu mu dengan memilihku, kamu meninggalkan mantan kekasihmu yang begitu di sayangi dan di restui Ibu mu.
Maafkan aku..

Apalah aku yang hanya bisa meyakinkanmu, ku relakan masa muda ku hanya untuk menjadi pasangan yang kamu mau.
Apalah aku yang jauh dari kata sempurna jika aku ingin jadi calon istrimu.
Maafkan aku..

Maafkan untuk segala pemikiranku ini,
maafkan untuk ketidaksempurnaan ku,
maafkan untuk segala sifat kekanak-kanakan ku,
maafkan segala perbuatanku yang suka menyakitimu walau kadang aku tak yakin kamu akan tersakiti oleh perbuatanku :')

Maaf untuk sifatku yang seperti ini, yang tak pernah optimis akan hubungan kita, setidaknya aku telah bermimpi membangun istana megah ku bersamamu, walau kadang aku suka di bangunkan oleh tatapan Ibu dan ke-2 adikmu tak termasuk adik ke-3 mu.

Aku selalu membayangkan, jikalau semua wanita yang di lahirkan di dunia di kasih 1 kesempatan untuk mendoakan kisah cinta mereka yang sangat indah layaknya di film dongeng, aku ingin barter akan doa itu, tak ingin aku meminta doa seberat itu, aku hanya ingin jika kamulah Jodohku nanti, semoga Ibu mu bisa menerimaku, tak apa dia tak menyayangiku, dengan menerima kehadiranku itu sudah cukup.
Itulah sumber kekuatan pikiran pesimisku, aku membayangkan jika aku jadi seorang Ibu dan berada di posisi Ibu mu itu akan sangat menyakitkan melihat anaknya lebih membela wanitanya dibanding seorang Ibu yang melahirkannya :')

Dan untuk kesekian kalinya...
Aku, "masih" cukup tahu diri :)
Maafkan aku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar